SCENE 1
Narator
Kehidupan ini sulit sekali dipahami dan dimengerti, kehidupan adalah sebuah skenario yang telah dibuat oleh Tuhan, dan Tuhan-lah yang paling mengerti, bagaimana jalan cerita kehidupan ini. Apakah akan lurus tanpa gelombang atau sebaliknya, yang penuh dengan gelombang dan batu-batu besar. Kehidupan yang penuh tanda tanya hanya bisa kita lalui tanpa mengerti alur cerita ataupun endingnya. Hanya bisa berharap akan keindahan dalam setiap perjalan, perjalanan keluarga, cinta, dan persahabatan.
Namun dilain sisi dalam dunia ini, kehidupan serasa tak adil bagi seorang gadis. Harapan serasa enggan untuk bermunculan dalam dunianya. Jalan penuh batu yang kini menggantikan segudang harapannya, air mata yang selalu menemani hari-harinya, dan perih luka dalam hati yang menyelimuti tubuhnya.
Jam dinding dalam sebuah ruangan menunjukan tepat pukul sebelas malam. Namun tanpa disangka disebuah ruangan yang gelap, hanya di sinari oleh nyala sebuah lampu yang sangat redup. Seorang gadis tengah duduk diatas sofa yang nyaman, berteman boneka beruang kesayangannya, selimut, dan sebuah bantal. Sebuah diary kecil yang tergeletak diatas meja dan sebuah pena kesayannganya sedari tadi tak tersentuh.
Gadis itu seakan tengah menunggu seseorang, namun entah siapa itu, karena berkali-kali ia melihat kearah pintu besar dihadapannya.
Aphrodite : udah Jam sebelas, tapi kenapa ibu belum pulang ya? (sejenak melihat Jam dinding dibelakangnya, kemudian perlahan mulai meraih pena dan diary kesayangannya, dengan wajah sedih perlahan mulai mencoretkan sebuah kata-kata dalam diarynya).
Song : (alunan pelan lagu last child-diary depresi).
Narator : Dear diary, ketemu lagi sama gue ‘APHRODITE’ seorang gadis yang dilahirkan dari rahim seorang wanita, tapi tanpa seorang ayah, dan sampai sekarangpun gue nggak tau siapa bokap gue ataupun wajah bokap gue. Diary, moga aja lo nggak bosen ngedengerin ocehan gue. Btw ngomongin tentang bokap, gue jadi inget cerita nyokap dulu. Kata nyokap waktu dia pendarahan mau ngelahirin gue, yang nolong malah para tetangga. Parah nggak tu? Kemana bokap gue? Bahkan Mama Eni, tetangga gue yang rela sampai saat ini ngebantu nyokap ngebesarin gue. Dulu saking penasarannya, gue pernah coba tanya sama nyokap tentang bokap gue, yah kalau nggak salah dulu kira-kira gue masih kelas enam SD, tapi jawabanya apa? Nyokap cuma bilang ‘udah gak cocok!’, dan saking penasarannya, gue tanya lagi tentang bokap gue, tapi hasilnya? Gue ditampar. Gue gak mewek waktu itu tapi cuma mengeluarkan air mata aja, hahahahaha.....
Gue udah capek nginget kejadian itu lagi, tapi kenapa kejadian itu nggak bisa hilang dari pikiran gue, sekaranng gue nggak tau bokap gue ada dimana? masih hidup atau udah mati?! Lagian kalau dia masih hidup, palingan dia nggak inget pernah punya anak! Bayangin aja, emang dia rasa gampang hidup selama enam belas tahun tanpa kehadiran seorang ayah?!
Suara : klik! (suara pintu yang dibuka oleh seseorang)
Aphrodite : (dengan cepat menutup diarynya dan menaruh diary itu disampingnya, sejenak melihat kearah pintu, hanya diam, dan memalingkan wajahnya, diambilnya boneka kesayanngannya dan memeluknya).
Ibu Aphrodite : (berjalan perlahan dan setengah terkejut melihat anakanya, berjalan kearah Aphrodite memeluknya dan mencium keningnya) Odit kamu cepat tidur! Sudah malam, kamu sudah makankan? (Meletakkan tasnya diatas meja dan berjalan kearah kamarnya).
Aphrodite : iya bu, Odit udah makan kok, malam bu! (mengambil selimut dan merebahkan tubuhnnya diatas sofa yang berada dibelakangnya).
Ibu Aphrodite : malam.... (berjalan tanpa memandang anakanya, masuk kekamar dan menutup pintu).
Song : (alunan lagu hanya satu pintaku – mocca).
SCENE 2
Narator
Udara pagi yang sejuk serasa mengobati hati yang telah terluka perih, indahnya mentari yang bersahabat dengan kicauan burung seakan seperti alunan lagu yang sangat harmonis, ditambah desiran angin yang berbisik sangat lembut disela-sela telinga. Senyuman bahagia menyambut pagi dengan alam yang begitu indah.
Alam kini saling bersahabat, sedang bercanda bersama menyabut indahnya pagi ini. Indahnya persahabatan seakan mampu menutup berjuta perih yang pernah dirasakan, hanya senyuman yang kini dapat terukir dan bukan air mata.
Keadaan ruangan yang sangat tenang, terdengar suara kicauan burung dan desiran angin yang terdengar seakan seperti alunan lagu. Seorang lelaki (Jemy) tengah tertidur dan bersandar diatas meja, dengan wajah terlelap dan seragam yang lusuh.
Tiba-tiba seorang gadis (Aphrodite) masuk dengan membawa sepatu ditangan kanannya, dan tas ransel ditangan kirinya.
Aphrodite : just get up!!! (berteriak dan menendang pelan lelaki yang ada dihadapanya).
Jemy : (perlahan mulai membuka mata secara pelan dan mengusap matanya, memandang Aphrodite dengan mata sayu, dan tersenyum jail).
Aphrodite : buruan bangun Jemy!!! (berteriak dan kembali menendang pelan kaki Jemy).
Jemy : ya...ya... pelan-pelan donk (perlahan mencoba berdiri dan masih mengusap matanya).
Aphrodite : ya udah, lo tunggu diluar aja, gue mau pake sepatu dulu... (menyodorkan sepasang sepatu didepan wajah jemy).
Jemy : buru!!! Kelamaan gue tinggal!!! (menyingkirkan sepatu yang ada didepan wajahnya, dan berjalan keluar dengan wajah kusut).
Aphrodite : (duduk diatas sofa dan memakai sepatunya, selesai berjalan keluar dan menghampiri Jemy)
Aphrodite &Jemy : (berangkat sekolah dengan naik sepeda masing-masing).
SCENE 3
Narator
Persahabatan yang diukir secara perlahan dan penuh cinta seakan seperti bunga-bunga yang bermekaran dimusim semi. Aroma harum yang meneduhkan hati. Persahabatan tak perlu kekayaaan ataupun kesombongan, tapi persahabatan perlu cinta dan kasih sayang.
Tak terdengar lagi suara kicauan burung, kini digantikan dengan suara bising ocehan siswa sekolah Odit dan Jemy. Diparkirkannya sepeda Odit dan Jemy diparkiran sepeda. Mereka berjalan pelan keruang kelas.
Hari ini adalah hari terakhir tes semester disekolah mereka, Jemy dan Odit berjalan kekelas mereka, tanpa disangka, dua orang pengawas sudah masuk dan sedang membagikan soal pada siaswa-siswa.
Aphrodite : Tok! Tok! Tok! (mengetuk pintu dengan perlahan dengan wajah gugup dan tersenyum pada pengawas).
Jemy : (hanya menunggu dibelakang Odit dengan wajah waswas).
Aphrodite : permisi bu...(tersenyum dan memasang wajah waswas).
Jemy : permisi bu...(berjalan dibelakang Odit dan tersenyum nyengir pada pengawas).
Pengawas 1 & 2 : (memandang Odit dan Jemy dengan wajah tidak senang dan mengangguk).
Aphrodite : (duduk disampingLuna, adik kelasnya dan meletakkan tempat pensil, kartu test dan penggarisnya diatas meja).
Luna : bisa nggak sih sehari aja gak terlambat? (menatap Odit dengan tatapan sinis).
Aphrodite : (hanya diam dan membalas tatapan Luna dengan mata melotot).
Luna : (menundukan kepala dan mengerjakan soal).
Aphrodite : (melihat dan membaca soal kemudian membuka contekan yang dia tulis dibalik rok sekolahnya, diatas pahanya).
Luna : (memandang Odit dan geleng-geleng kepala dengan wajah sinis).
Aphrodite : (memukul lengan Luna sagat keras sehingga kedua pengawas mendengarnya).
Pengawas 1 : ada apa ini? (dengan nada sinis dan memandang wajah Odit dan Luna).
Aphrodite : Luna nih bu... ehmm maksa-maksa saya suruh ngliatin jawaban depan (berkata dengan gugus sambil memandang Luna).
Luna : (memandang Odit dengan wajah terkejut dan gugup) maaf bu... (memandang pengawas dengan lemas dan kemudian memandang Odit dengan sinis).
Pengawas 1 : jangan diulangi lagi! (dengan nada keras dan berjalan meninggalkan Odit dan Luna).
Pengawas 2 : waktu yang tersisa tingal 40 menit lagi! (berjalan mengelilingi anak-anak sembari melihat Jam tangannya).
Suara : toet! toet! You,ve got new massage! Yahoowwwww!!! (Suara handphone Odit yang berada disaku rok sekolahnya).
Pengawas 1 & 2 : (berjalan kearah Odit, pengawas 2 meminta handphone Odit dan menyerahkannya padapengawas 1, kemudian membaca massage di handphone Odite).
Aphrodite : (memberikan handphonenya kepada pengawas 2 dengan wajah gugup dan tertunduk).
Siswa-siswa : (memandang kearah Odit).
Luna : (tersenyum bahagia melihat Odit yang gugup).
Pengawas 1 : sms dari luvly Lano (dengan suara keras sehingga seluruh siswa di kelas itu mendengar dengan jelas dan dengan wajah sinisnya).
Aphrodite : (mendongakkan kepala dan terkejut).
Pengawas 1 : pacar kamu? (dengan wajah penuh tanya menatap Odit).
Aphrodite : (menggelengkan kepala pelan dan dengan kepala masih tertunduk).
Pengawas 1 : Dit, nomor dua satu sampe tiga puluh dong... plisss, urgent banget nih.. (dengan nada bicara keras) selesai mengerjakan soal tolong kamu keruang BP ya...oh iya jangan lupa kamu ajak luvly Lano mu itu ya...(berbicara dengan nada yang sedikit lebih rendah, namun masih terdengar oleh seisi kelas dan berjalan pelan meninggalkan Odit).
Aphrodite : (menganggukan kepala pelan dan kembali mengerjakan tugas).
SCENE 4
Narator
Kenangan indah tak akan mungkin dengan mudah dapat terlupa bahkan kenangan gila dengan seoranng sahabat atau orang yang dicinta sangat sulit dan tak akan pernah terlupa, seakan tak ingin kehilangan semua kenangan yang telah tersimpan rapi dalam sebuah memory dalam diri.
Ingin selalu tertawa, menangis, dan meridukannya ketika mengingat semua, karena kenangnan, kita hidup dan karena kenangan kita dapat mengukir warna dalam sebuah kehidupan dan mengerti makna sesungguhnya didalam kehidupan.
Odit dan Lano melangkahkan kaki mereka dengan pelan kearah ruanng BP, ruangan itu seakan horor bagi mereka, karena tatapan mata mereka seakan tak berkedip melihat ruangan itu dan wajah ketakutan yang sedari tadi mereka perlihatkan.
Lano : Tok! Tok! Tok! (Lano mengetuk pintu perlahan dan menatap seisi ruangan BP dan tersenyum nyengir).
Aphrodite : (hanya diam berjalan dibelakang Lano dan memenggang erat ransel Lano).
Pengawas 1 & 2 : (tersenyum sinis pada Odit dan Lano).
Aphrodite & Lano : (duduk dibangku yang berada tepat didepan guru BP, Bu Catherin, dengan wajah pucat dan perasaan waswas diwajah mereka berdua dan kepala tertunduk sedari tadi).
Bu Chaterin : so, Lano, coba kamu beri saya alasan kenapa kamu menanyakan soal ujian kepada Odit lewat sms (berbicara dengan nada lembut tetapi tegas,pandangan lurus kearah Lano).
Lano : ehmmmm...pertama-tama saya minta maaf dulu, bu. Ini memang kesalahan saya. Odit nggak salah apa-apa bu, kan saya yang kirim sms ke Odit, bu? (lano menjelaskan padabu Chaterin dengan nada terbata-bata dan kepala masih tertuntuk.Beberapa saat sempat memandang wajah guru Bpnya).
Bu Chaterin : itu urusan nanti sayang,... sekarang jawab pertanyaan ibu dulu, kenapa kamu memintajawaban Odit lewat SMS (masih dengan nada lembut dan mengulangi pertanyaanya).
Lano : (hanya terdiam).
Bu Chaterin : ya sudah untuk saat ini saya beri toleransi kepada kalian, ibu tidak akan memberi hukuman kepada kalian dan tidak akan memberi tahu kepada guru yang bersangkutan, asalkan kalian mau janji kepada ibu untuk tidak mengulanginya lagi (berbicara dengan sangat jelas).
Pengawas 1&2 : (memasang wajah tidak senang dan tersenyum sinis).
Aphrodite & Lano : (bersamaan mendongakkan kepala dan tersenyum, kemudian merundukkan kepala lagi dan mengangguk bersama secara perlaan dan berjalan keluar dari ruang BP) terima kasih bu....
SCENE 5
Narator
Persahabatan, bukan ada ketika mereka butuh kita dan akan pergi ketika kita butuh mereka, tetapi sebuah persahabatan adalah kita selalu ada ketika mereka butuh kita dan mereka selalu ada ketika kita butuh mereka.
Menerima sisi negatif dari satu sama lain dan bersama membuat kekurangan menjadi sebuah kelebihan persahabatan. Bukan sebuah imajinasi tapi sebuah keajaChikadengan sebuah persahabatan.
Di parkiran sekolah terlihat sepi hanya sekilas satu, dua orang yang berlalu lalang. Karena sebagian besar anak disekolah sudah pulang. Didepan parkiran semua anggota RAG sedang duduk menunggu kedatangan Lano dan Odit, kecuali Tira. Tira datang bersamaan dengan datangnya Lano dan Odit.
Aphrodite & Lano : (berjalan berdua dari arah kanan RAG).
Tira : (berjalan sendiri dari arah kiri RAG).
Chika: lo berdua kemane aje sih!!! Guekan mau bareng lo, No! (dengan wajah memelas).
Jingga : he,eh! (menggangguk tanda setuju dan wajah penuh tanya).
Lano : gue sama Odit dari ruang BP lagi (dengan wajah santai).
Jingga : hah! Gila lo Dit!!! Ko bisa gitu?! Tapi nggak di DO-kan?! (dengan wajah penuh tanya, panik dan memegang pundak Odit dengan kuat, pandangan menatap tajamwajah Odit).
RAG : (wajah terkejut mendengar perkataan Lano, mulai mendekati Odit).
Aphrodite : (terkejut melihat Jingga dan mencoba melepaskan genggaman tangan Jingga dipundaknya).
Jemy : heh! Mendingan ceritanya entar aja di rumah gue sambil makan bakso mang Hasan! Dari pada lo semua kegerahan disini! Yang penting sekarang Lano sama Odit kagak kenapa-kenapa? Yukakh cabut! (dengan wajah bosan, mengipas-ngipaskan tangan dibadan dan memengangi perut yang kelaparan).
RAG : (pergi mengikuti Jemy).
SCENE 6
Narator
Tak mampu mengerti arah cerita Tuhan, sebuah persahabatan yang sangat menyatukan banyak insan, perlahan mulai hilang dan berganti menjadi titik-titik cinta dan kasih sayang.
Tak mampu mengatakan atau mungkin tak menyadari dan tak ingin menyadarinya. Hanya ingin besama dan tak ingin terluka, tapi juga tak ingin berlangsung tanpa arah. Mencoba berjalan dengan perlahan mencari makan sesungguhnya.
Semua anggota RAG sedang duduk didepan teras rumah Jemy, sambil makan bakso Mang Hasan dan bercerita tentang kejadian yang Odit dan Lano alami tadi. Sesaat mereka tertawa karena mendengar cerita dari Odit dan Lano.
Jingga : lo sih, No! Make nanya-nanya lewat sms segala! Kasian kan Odit, hampir aja di DO dari sekolah! (berteriak memandang Lano dengan wajah menyalahkan Lano, dan tangan yang memegang Odit pelan).
Lano : ya deh gue yang salah,maafin gue ya, Dit.... (wajah bersalah meminta maaf pada Odit dan tersenyum memohon, tangan memohon).
Aphrodite : it’s ok kali, No! Emang guenya aja yang bego, udah tau ujian tapi handphone nggak gue silent...(berkata dengan wajah santai dan tersenyum manis pada Lano, kemudian mencubit Jingga dan tersenyum paksa padanya).
RAG : (hanya diam melihat pertengkaran itu dan makan bakso dengan tenang).
Tira : heh! Dari pada lu pade main salah-salahan, gue tarik kesimpulan aja ya... kalau yang bego tu kalian berdua, udah tau kalian berdua salah, masih aja salah-salahan, kan yang bingung jadinya gua! (berbicara dengan wajah menyalahkan Lano dan Odit).
Aphrodite & Lano : (bersamaan menjitak kepala Tira).
Jingga : udah sore, balik yuk! (melihat jam tangan dan mengajak pulang anggota RAG).
RAG : yuk, dah sore gini! (mengiyakan ajakan Jingga, mengambil tas masing-masing, mengajak anggota lainnya, dan berjalan pulang).
Aphrodite : gue pulang ntar, kasian Jemy kalo ditinggal, ntar malah nangis. (meledek Jemy dan tersenyum jail pada Jemy).
Jingga : kita balik dulu Jem, Dit! (berteriak, berpamitan pada Jemy dan Odit sembari melambaikan tangan).
Beberapa saat setelah RAG pergi
Masih diteras rumah Jemy, Odit dan Jemy duduk berdua dan ngobrol berdua. Sembari menatap matahari terbenam.
Jemy : so,masih berjuang nyari tau siapa bokap lo?! (bertanya pada Odit dengan pandangan masih mengarah pada langit).
Aphrodite : yeah...but please, jangan ngomongin itu sekarang (memasang wajah tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan Jemy).
(Keadaan diam sesaat)
Aphrodite : Jem, apasih yang lo rasain waktu ngejalanin hubungan sama seorang cewek? Lo anggep apa sih cewek itu sebenarnya? Kok kayaknya lo gampang banget gonta-ganti cewek, dan nggak ada sedih-sedihnya tiap kali abis putus sama cewek. (bertanya dengan wajah penuh tanya dan memandang Jemy sangat lekat).
Jemy : Odit, let me tell you! Cinta itu berotasi. Berputar, bergantian. Bisa pindah kemana aja. Kesiapa aja. Ketika lo nemuin orang yang bisa bikin lo nyaman, maka itulah cinta lo. Cinta adalah orang yang bisa bikinkita yakin bahwa kita bisa berbagi sama dia. Cinta adalah orang yang bisa nerima kita apa adanya.cinta adalah orang yang bisa nerima kita walau kita udah nemuin cinta-cinta lain. Dan wanita-wanita itu adalah cinta-cinta gue, jadi menurut gue cinta abadi itu bull shit, nggak ada dalam hidup gue. Yang ada adalah cinta sejati. Dan cinta sejati adalah nadi, saat lo kehilangan sebuah cinta, maka lo bisa temuin banyakcinta lain diluar sana. Tapi ketika lo kehilangan cinta sejati lo, urat nadi lo. Lo bakalan mati, nggak bisa hidup lagi. Cinta sejati adalah orang yang bisa menghentikan rotasi itu, dan akan berhenti tepat dihatinya. Cinta sejati gak usah dicari, karena akan datang dengan sendirinya. (dengan wajah santai, dan perlahan menata wajah Odit dan nyengir dengan bangga).
Aphrodite : wow, keren kata-kata lo tentang cinta. Sekarang cinta sejati lo siapa? (bertanya dan memandang Jemy dengan wajah penuh tanya dan tatapan penasaran).
Jemy : lo mungkin....(menjawab dengan asal dan tersenyum jail pada Odit).
Aphrodite : (memandang Jemy dengan tatapan tajam dan bertanya-tanya)
Jemy : iya, jadi kan selama ini gue nyaman sama lo, lo juga, buktinya nempel mulu sama gue. Lo juga bisa nerima gue apa adanya, gue juga. Kita saling berbagi. Kurang apa coba... (tersenyum jail pada Odit).
Aphrodite : (memasang wajah sangat terkejut) dasar bego! Buruan anterin gue balik, lama-lama malah nglantur kemana-mana (berdiri dan menyeret Jemy).
Aphrodite &Jemy : (jalan pulang kerumah Odit berdua).
SCENE 7
Narator
Tak ingin menghapus semua kenangan indah ini, tak ingin kehilangan hal manis dalam hidup ini. ingin menyimpannya selalu dalam memory kenangan dalam diri walau semua seorang diri, dan tak kan terlupa sampai nanti.
Bukan sepi, bukan tangis, dan bukan perih, tetapi ini adalah senyuman indah dari sang mentari ketika menyambut pagi nan sunyi. Membawa bunga menyambutnya dalam dekapan sebuah, persahabatan....
Keadaan kelas dengan banyak siswa sedang berkumpul didalam kelas dan mendengarkan radio yang dibawa oleh salah seorang siswa, mereka seperti menunggu sesuatu.
Aprhrodite dan Jemy penasaran dan berjalan dengan langkah senang mendekati segerombolan anak itu, dan ikut mendengarkan apa yang mereka dengarkan. Namun tak ada seorangpun yang menyadari akan kedatangan Aphrodite disela-sela mereka.
Penyiar 1 : oke, kembali lagi nih bareng kita, Ajeng dan Dyta di Prambos, 107.1 FM.
Penyiar 2 : tadi udah kita dengerin welcome song dari Smash. Selalu bersama. Ya bagi orang-orang yang punya sahabat atau bahkan cinta mungkin yang gak bisa lepas dan maunya selalu bersama,
Penyiar 1 : oke, oke lanjut ja nih, taukan sekarang waktunya buat apa?
Penyiar 2 : curhat dong Jeng....
Penyiar 1 : yupz bener banget nih sekarang waktunya untuk curhat bareng kita nih,..
Penyiar 2 : ya kalau yang mau pada curhat sama kita call aja ya di 081234567890 oke, kita tunggu nih...
Penyiar 1 : wah udah ada yang telvon ke kita nih... oke siapa disana?
Jingga : Jingga nih kak... (menelvon dengan handphonenya).
Penyiar 2 : oh hai Jingga....
Jingga : hai juga kak (menjawab dengan penuh semangat).
Penyiar 1 : duh rame bener nih kayaknya, Jingga lagi dikelas ya?
Jingga : iya nih lagi pada dengerin prambos semua...
Penyiar 2 : wah ada acara apa nih, kok kayaknya rame banget, sampe pada ngumpul semua, seru banget nih....
Jingga : soalnya pada mau denger cerita paling hot buat pagi ini yang baru kejadian di sekolah gue, It’s SMANSA (dengan nada senang).
Penyiar 1 : iya ayo buruan cerita kayaknya asik banget nih....
Jingga : iya nih, anak-anak di sekolah juga udah nunggu banget...
Penyiar 2 : so cepetan dong ceritain, bakal asik nih kayaknya....
Jingga : jadi ada temen gue yang namanya Aphrodite, panggilanya Odit, dia baru aja ketiban sial,... (dengan nada menggebu-gebu)
Penyiar 1 : emang ketiban sial gimana?
Jingga : dia itu baru aja berantem sama anak kelas satu gara-garanya si Luna tuh gak sengaja nabrak dia waktu di lorong kelas satu, hm sampe mental gitu...
Penyiar 2 : ya ampun jadi gara-gara dia mental itu makanya dia ngomel-ngomel gitu...
Jingga : yupz and you kno what?! Gara-gara mental itu roknya sobek panjaaaaaang banget...dan sampe sekarang kayaknya dia gak sadar gitu...
Aphrodite (melihat keadaan belakang roknya) Jingga!!! (berteriak dan mencoba menutupi bagian roknya yang sobek)
Siswa-siswa : tuh orangnya...(menunjuk kearah Odit ketawamelihat Odit).
Penyiar 1 : ya ampun! Odit, eh Jingga, pasti si Odit baru nyadar ya?! Tereaknya kenceng banget, gila!
Jingga : iya kayaknya sih gitu, hm yaudah gue mau nenangin Odit dulu biar gak shock....hahahahhaha....!!! (menutup handphonnya).
Penyiar 2 : oke deh Jingga, moga aja lo gakkena semprot ya sama si Odit, and buat Odit sabar ya Dit, ok udah puas kan ketawa denger cerita dari anak-anak smansa yang bocor banget, kayaknya tambah seru nih kalo kita denger lagu dari sheila on 7, kita...
Song : (Sheila on 7 – Kita).
Aphrodite
& Jingga: (berjalan pergi meninggalkan ruangan kelas)
Siswa-siswa : (dengerin lagu dari radio, ngumpul bareng).
SCENE 8
Narator
Tak salah jika seorang menyimpan sebuah cinta, tapi apakah salah jika cinta itu muncul dari sebuah persahabat.apa semua rasa cinta akan menghancurkan tali pertemanan. Rasa sedih selalu menghantui ketika dia berbica tentang orang lain, selain diri kita.
Tapi bagaimana harus melangkah lagi, hanya bisa diam dari seribu bahasa, tersenyum walau pahit terasa, menangis dan menutupi semua.
Keadaan didepan kelas anak-anak RAG sedang asik berkumpul, ada yang sedang tiduran dilantai.
Tira : Jing, beli makanan dulu gih di koprasi biar ada cemilan dikit (berbicara sambil tiduran memandang langit-langit).
Jingga : sial banget sih lo, kan udah gue bilang jangan panggil gue dengan sebutan itu, ntar orang nyangka nama gue anjing... (dengan wajah super sebel).
Tira : lagian punya nama ribet banget, udah buruan beli cemilan... (mengelus-elus perutnya)
Jingga : ogah banget, lo kira gue pembokat lo...(dengan wajah super jutek).
(Diam sejenak).
Jingga : Jem, cewek lo siapa sekarang...? (dengan wajah penuh tanya).
Jemy : (berjalan mendekat kearah Jingga, duduk disampingnya, dan merangkulnya) Jingga sayang, gue tau kok dari dulu itu lo nyimpen rasa kan sama gue? Gue bakal ngasih hadiah buat lo karena lo setia banget nunggu gue... (mendekatkan wajahnya kewajah Jingga).
Jingga : (Menutup mata dengan perasaan dan wajah takut).
Jemy : hahahahaha.... (ketawa tepat didepan wajah Jingga).
RAG : hahahahaha... (ketawa keras melihat perilaku Jemy dan Jingga).
Jingga : (menundukan kepala dan meneteskan air mata).
Aphrodite : Jem, Jingga nangis tuh... (dengan wajah kaget).
Jemy : Jingga, gue kan Cuma bercanda, maafin gue. Sebagai permintaan maaf gue, gue traktir di kantin deh.... (memohon dengan wajah memelas).
Tira : gue juga Jem! (dengan nada memohon).
Jemy : lo bayar sendiri.. (dengan wajah jutek).
RAG : (pergi meninggalkan Odit sendiri di UKS).
(Selang beberapa saat).
Lano : (berjalan ke arah Odit) sendirian lo...? (melihat kesekeliling).
Aphrodite : yupz seperti yang lo liatkan, anak-anak pada kekantin...(dengan wajah santai memandang luar UKS).
Lano : gak ikut lo?! (ikut melihat sesuatu diluar UKS).
Aphrodite : (menggelengkan kepala) pengen di sini aja, capek gue...
Lano : Gissela... (menatap tanpa kedipan) dari dulu gue suka banget sama dia.. ya udah mau gue samperin dulu akh... (berlari meninggalkan Odit).
Lano & Gissela : (terlihat sedang asyik bicara).
Aphrodite : (terkejut mendengar perkataan Lano).
Jemy : (berjalan kearah Odit dengan cepat) cemburu ya? (dengan nada usil).
Aphrodite : (menggelengkan kepala).
Jemy : udah gak usah bohong sama gue, gue tau kok, and gue bakal diem kok... (dengan senyuman jail).
Aphrodite : sok tau(dengan wajah jutek).
Jemy : gue itu temen lo sejak lama, bahkan dari jaman masih dalem perut nyokap kita, jadi gue tau lo ... (mengusap rambut Odit).
Aphrodite : hehehehehe....jangan bilang-bilang lo... awas aja sampe ember.... (tertawa nyengir ke arah Jemy).
SCENE 9
Narator
Biarkan cinta yang bicara akan semuanya, seperti air yang mengalir, percaya akan semua pada waktu yang akan membawa aliran air ke muara yang sangat indah,. Dengan sejuta impian dan sejuta senyuman.
Tetapi terkadang sesuatu hal yangburuk akan membuat hilang rasa cinta yang telah terukir cantik didalam hati, sulit untuk terobati.
RAG sedang duduk-duduk didepan rumah Jemy, tiba-tiba Chikadatang dengan membawa tas ransel besar.
Chika: Jem, gue nginep dirumah lo ya? (kata Chikamemohon).
Jemy : yup, no problems...ada masalah lagi lo ma bokap lo, (dengan santai dan tersenyum).
Chika: (meneteskan air mata dan menganggukan kepala).
Aphrodite : gue tau kok rasanya jadi lo... (merangkul Chika).
Jemy : ya udah gak usah dipikirin lagi, kita nyanyi-nyanyi aja (mengambil gitar dan dengan RAG bernyanyi bersama).
Song : (Sheila On 7 – Sebuah Kisah Klasik).
SCENE 10
Narator
Tak mengerti dengan yang terjadi, kini si itik perlahan menjadi seekor angsa putih cantik, keterpurukan tak lagi menghantui, namun semua yang terjadi bagaikan mimpi. Baju lusuh kini berubah menjadi gaun warna-warni secerah indahnya mentari. Ingin rasa hati melompat tinggi. Namun tetap saja keraguan selalu menemani hari-hari sepi.
Malam ini sangat sunyi, Odit masih duduk diatas sofa sedari tadi, Jam dinding menunjukan pukul setengah dua belas malam, namun sama sekali tidak dia hiraukan. Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara.
Suara : klik! (pintu dibuka dan ibu Odit masuk dengan wajah pucat dan lesu).
Ibu Aphrodite : malam sayang,...! (tersenyum dan berjalan mendekati Odit, memeluknya dan mencium keningnnya).
Aphrodite : malam bu,.. (dengan wajah terkejut).
Ibu Aphrodite : (mengambil bungkusan berisi gaun didalam tas kerjanya dan memberikannya pada Odit).
Aphrodite : (dengan wajah bingung) apa ini bu? (membuka bungkusan itu).
Ibu Aphrodite : (merangkul Odit) itu gaun, temen kantor ibu ada yang jual dan ngasih potongan harga, makanya ibu beli buat kamu, pasti kamu cantik banget waktu pake itu.(tersenyum pada Odit).
Aphrodite : (tersenyum bahagia dan memeluk ibunya) makasih ya bu...
Ibu Aphrodite : (membalas pelukan Odit dan tersenyum) iya sayang, kamu pasti cantik pakai itu, pakai aja watu ulang tahun Jingga, pasti kamu jadi wanita tercantik disana...
Aphrodite : (melepas peluka ibunya) iya bu... bu besok ambilin raport Odit ya?
Ibu Aphrodite : (mengangguk dan berjalan memasuki kamar).
SCENE 11
Narator
Rasa sakit mulai menghantui ketika masa lalu yang menyakitkan kembali tanpa disangka-sangka, ingin menghapus rasa yang ada tapi percuma. Hanya rasa sesal dan benci yang menghantui.
Teriakan hati berubah menjadi tangis. Sangat perih. Ingin pergi menjauh tapi kenapa semua penyesalan berjalan menghampiri.
Keadaan diluar kelas Odit denngan banyak wali murid yang menunggu giliran untuk mengambilkan raport milik mereka. Ibu Odit yang sedang berbicara dengan seorang lelaki,membuat Odit merasa penasaran dan menguping pembicaraan mereka.
Ayah Odit : maafkan aku Amanda, karena kau telah meninggalkanmu dan anak kita, aku malu dengan keadaanku saat itu. (dengan wajah menyesal).
Ibu Aphrodite : (hanya bisa menangis dan tertunduk tak menyadari kedatangan Odit).
Aphrodite : (dengan wajah terkejut mendengar semuanya).
Aphrodite : (berjalan balik arah dan mengambil air comberan kemudian berjalan kembali dan mengguyurnya pada lelaki didepan ibunya).
Ayah Odit : (terkejut dan melihat bajunya) apa-apaan kamu....
Ibu Aphrodite : Odit.... (dengan wajah terkejut dann membantu lelaki itu membersihkan bajunya dengan sehelai tisu).
Luna : (melangkah mendekat dan terkejut dengan semuanya) Odit apa-apaan sih lo? Nyiram bokap gue, gue tau lo benci sama gue, tapi gak gini caranya. (dengan wajah marah).
Ayah Odit : (terkejut) Aphrodite, kamu Aphrodite.....
Aphrodite : (dengan wajah marah) iya gue Aphrodite! Anak yang selama ini lo sia-siain! Ini gue... anak lo udah segede ini.. dan gue yakin pasti ini pertama kalinya lo liat anak kandung lo sendiri kan? (membentak penuh amarah).
Ayah Odit : nak maafkan ayah (dengan wajah lesu).
SCENE 12
Narator
Kini semua telah terungkap, kesedihan kini mulai berubah menjadi canda tawa. Semoga kenyataan yang ada tak sekedar harapan semata, karena semakin lama rasa lelah menyapa karena permainan kehidupan.
Berharap dan yakin yang hanya bisa dilakukan saat ini. tersenyum dan menghapus semua tangisan yang ada.
Ayah Odit : maafkan ayah ya sayang... (membelai rambut Odit).
Luna : aku sayang kamu, kakakku..
Luna & Aphrodite :(berpelukan).
Ayah& ibu : (tersenyum).
SCENE 13
Narator
Ingin rasa hati mengungkap sejuta rahasia didalamnya tetapi mulut ini sangat sulit menerima semua yang terjadi, sulit untuk membukanya walau itu perlahan. Teriakan dalam hati yang telah menggebu itu tak dihiraukan. Sepasang mata mengungkap semua kebenaran. Namun kenapa cinta tak menyadarinya.
Dengarlah kata cinta dalam hati ini, mengertilah rasa yang sulit kau pahami, dan berikan setitik cahaya akan cinta sejati.
Pesta yang sangat meriah merayakan ulang tahun Jingga, RAG datang bersamaan dan dengan meriah merayaka ulang tahun Jingga, tiba-tiba Jemy menarik tangan Odit dan mengatakan sesuatu pada Odit.
Aphrodite : lo kenapa sih Jem? (dengan wajah penuh tanya).
Jemy : gue cuma mau ngomong kalau gue..... gue sayang sama lo Dit...(dengan nada terbata-bata).
Aphrodite : gue juga sayang sama lo (dengan nada bercanda)
Jemy : gue beneran sayang, hhmmmm maksut gue cinta Dit.... (tertunduk malu).
Aphrodite : (dengan pandangan tajam pada Jemy).
Jemy : gue sadar selama ini yang gue sayang cuma lo....(masih tertunduk)
Aphrodite : gue juga beneran cinta sama lo, gue sadar kalo selama ini gue sayang cuma sama lo, lo selalu ada buat gue, nerima gue apa adanya. Dan Lano, gue juga sadar kalo gue Cuma sekedar kagum sama dia, dan gak lebih...(tersenyum pada Jemy).
Aphrodite &Jemy : (berpelukan dan Jemy mencium kening Odit, setelah itu mereka berjalan kearah kerumunan pesta).
Narator
Kini sang angsa putih telah menemukan muara yang sangat indah dimuka bumi ini. bersama berjuta bintang yang mengitarnya dan berjuta bunga yang bernyanyi bahagia dengannya. Menunggu mentari yang akan tersenyum ramah padanya.
Semua sudah bukanlah impian tetapi sebuah kenyataan yang indah dengan sejuta senyuman dan harapan untuk masa depan, bersama dekapan cinta, kasih sayang keluarga, dan persahabatan.
-END-